Bijeh Pade

oleh: relnas

        BAB I
PENDAHULUAN


A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Teks al-Qur'an adalah wahyu Allah yang tidak akan berubah oleh campur tangan manusia, tapi pemahaman terhadap al-Qur'an tidak tetap, selalu berubah sesuai dengan kemampuan orang yang memahami isi kandungan al-Qur'an itu dalam rangka mengaktualkannya dalam bentuk konsep yang bisa dilaksanakan. Dan ini akan terus berkembang sejalan tuntutan dan permasalahan hidup yang dihadapi manusia, maka di sinilah
celah-celah orang yang ingin menghancurkan Islam berperan.
Sebagai petunjuk, tentunya al-Qur'an harus dipahami, dihayati dan diamalkan oleh manusia yang beriman kepada petunjuk itu, namun dalam kenyataannya tidak semua orang bisa dengan mudah memahami al-Qur'an, bahkan sahabat-sahabat Nabi sekalipun yang secara umum menyaksikan turunnya wahyu, mengetahui konteksnya, serta memahami secara alamiah struktur bahasa dan kosa katanya. Tidak jarang mereka berbeda pendapat atau bahkan keliru memahami maksud firman Allah yang mereka dengar atau yang mereka baca.[1]
 Karena itu Rasulullah berfungsi sebagai penjelas (mubayyin) maksud firman Allah.Pada masa Rasulullah saw hidup, umat Islam tidak banyak menemukan kesulitan dalam memahami petunjuk dalam mengarungi hidupnya, sebab manakala menemukan kesulitan dalam satu ayat, mereka akan langsung bertanya kepada Rasulullah saw dan kemudian
Beliau menjelaskan maksud kandungan ayat tersebut. Akan tetapi sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam banyak menemukan kesulitan karena meskipun mereka mengerti bahasa Arab, al-Qur'an terkadang mengandun isyarat-isyarat yang belum bisa dijangkau oleh pikiran orang-orang Arab. Oleh karena itu mereka membutuhkan tafsir yang bisa membimbing dan menghantarkan mereka untuk memahami isyarat-isyarat seperti itu.
Langkah pertama yang mereka ambil adalah melihat pada hadits
Rasulullah saw, Disamping itu, mereka mengambil langkah dengan cara menafsirkan satu
ayat dengan ayat lainnya, langkah selanjutnya yang mereka tempuh adalah
menanyakannya kepada sahabat yang terlibat langsung serta memahami
konteks posisi ayat tersebut. Selain bertanya kepada para sahabat senior sumber informasi bagi penafsiran al-Qur'an, mereka bertanya juga kepada ahli kitab, yaitu kaum
Yahudi dan Nashrani.[2] Hal itu mereka lakukan lantaran sebagian masalah dalam al-Qur'an memiliki persamaan dengan yang ada dalam kitab suci merkaa, terutama berbagai tema yang menyangkut umat-umat terdahulu.
Penafsiran seperti ini terus berkembang sejalan dengan perkembangan pemikiran manusia dan kebutuhannya akan urgensi al-Qur'an sebagai petunjuk bagi kehidupannya sedemikian sampai-sampai tanpa disadari bercampurlah tafsir dengan Israiliyat. Kehadiran israiliyyat
dalam penafsiran al-Qur'an itulah yang, menjadi ajang polemic dikalangan para ahli tafsir al-Qur'an. Karenanya, makalah ini akan membahas tema israiliyat dari sudut apa pengertian israiliyyat, bagaimana proses masuk dan berkembangnya israiliyyat dalam tafsir dan bagaimana pengaruh israiliyyat dalam penafsiran al-Qur'an.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian israiliyyat?
2.      Proses Masuk dan Berkembangnya Israiliyyat dalam Tafsir al-Qur'an
3.      Pengaruh Israiliyyat dalam Penafsiran al-Qur'an
C.     TUJUAN PEMBAHASAN
1.      Untuk mengethui pengertian israiliyat
2.      Untuk mengetahui proses dan berkembangnya israiliyatdalam tafsir alqur an
3.      Untuk mengetahui pengaruh israiliyat dalm penafsiran al-qur an.

                                                        BAB II
                                                  PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN ISRAILIYAT
       Ditinjau dari segi bahasa kata israiliyyat adalah bentuk jamak dan kata israiliyah, bentuk kata yang dinisbahkan pada kata Israil yang berasal dari bahasa Ibrani, Isra bararti hamba dan Il berarti Tuhan, jadi Israil adalah hamba Tuhan. Dalam deskreptif histories, Israil barkaitan erat dengan Nabi Ya'kub bin Ishaq bin Ibrahim as, dimana keturunan beliau yang berjumlah dua betas disebut Bani Israil. Di dalam al-Qur'an banyak disebutkan tentang Bani Israil yang dinisbahkan kepada Yahudi.[3]
Misalnya, firman Allah dalam surah al-Maidah:78, al-Isra:4, an-Naml: 76.
artiya :” Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas”(al-Maidah:78)
“ Sesungguhnya al-Qur'an ini menjelaskan kepada Bani Israel sebagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangya “(an-Naml: 78) .
Secara istilah para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan israiliyyat. Menurut adz-Dzahabi israiliyyat mengandung dua pengertian yaitu, pertama: kisah dan dongeng yang disusupkan dalam tafsir dan hadits yang asal periwayatannya kembali kepada sumbernya yaitu Yahudi, Nashrani dan yang lainnya. Kedua: cerita-cerita yang sengaja
diselundupkan oleh musuh-musuh Islam ke dalam tafsir dan hadits yang sama sekali tidak dijumpai dasarnya dalam sumber-sumber lama.[4]
Definisi lain dari asy-Syarbasi adalah kisah-kisah dan beritaberita yang berhasil diselundupkan oleh orang-orang Yahudi ke dalam Islam. Kisah-kisah dan kebohongan mereka kemudian diserap oleh umat Islam, selain dari Yahudi merekapun menyerapnya dari yang lain.[5]
Sedangkan Sayyid Ahmad Khalil mendefenisikan israiliyyat dengan
riwayat-riwayat yang berasal dari ahli kitab, balk yang berhubungan dengan agama mereka maupun yang tidak ada hubungannya sama sekali dengannya.Penisbahan riwayat israiliyyat kepada orang-orang Yahudi karena para perawinya berasal dari kalangan mereka yang sudah masuk Islam.[6]
Dari tiga definisi tersebut di atas tampaknya ulama-ulama sepakat bahwa yang menjadi israiliyyat adalah Yahudi dan Nashrani dengan penekanan Yahudilah yang menjadi sumber utamanya sebagaimana tercermin dari perkataan israiliyyat itu sendiri. Abu Syu'bah mengatakan pengaruh Nashrani dalam tafsir sangat kecil. Lagi pula pengaruhnya tidak
begitu membahayakan akidah umat Islam karena umumnya hanya
menyangkut urusan akhlak, nasihat dan pembersihan jiwa.
Formulasi tentang israillyat tersebut terus berkembang di kalangan para pakar tafsir al-Qur'an dan hadits sesuai dengan perkembangan pemikiran manusia. Bahkan di kalangan mereka ada yang berpendapat bahwa israiliyyat mencakup informasi-informasi yang tidak ada dasarnya sama sekali dalam manuskrip kuno dan hanya sekedar sebuah manipulasi yang dilancarkan oleh musuh Islam yang diselundupkan pada tafsir dan hadits untuk merusak aqidah umat Islam dari dalam.
Meskipun israiliyyat banyak diwarnai oleh kalangan Yahudi, kaum Nashrani juga turut ambil bagian dalam konstalasi versi israiliyyat ini. Hanya saja dalam hal ini, kaum Yahudi lebih popular dan dominan. Karenanya kata Yahudi lebih dimenangkan lantaran selain yahudi lebih lama berinteraksi dengan umat Islam, di kalangan mereka juga banyak yang masuk Islam.
2.  PROSES MASUK DAN BERKEMBANGNYA ISRAILIYAT DALAM TAFSIR AL QUR AN
     Infiltrasi kisah israiliyyat dalam tafsir al-Qur'an tidak lepas dari kondisi  sosio cultural masyarakat Arab ada zaman jahiliyah.Pengetahuan mereka tentang israiliyyat telah lama masuk ke dalam benak keseharian mereka sehingga tidak dapat dihindari adanya interaksi
kebudayaan Yahudi dan Nashrani dengan kebudayaan Arab yang kemudian menjadi jazirah Islam itu.
Sejak tahun 70 M terjadi imigrasi besar-besaran orang Yahudi ke Jazirah Arab karena adanya ancaman dan siksaan dari penguasa Romawi yang bernama Titus. Mereka pindah bersama dengan kebudayaan yang mereka dari ambil dari Nabi dan Ulama mereka, Berta mereka wariskan dari generasi ke generasi. Mereka mempunyai tempat yang bernama Midras sebagai pusat pengajian kebudayaan warisan yang telah mereka terima dan menemukan tempat tertentu sebagai tempat beribadah dan menyiarkan agama mereka.[7]
Selain itu juga bangsa Arab sering berpindah-pindah, baik kearah timur maupun barat. Mereka memiliki dua tujuan dalam berpergian. Bila musim panas pergi ke Syam dan dingin pergi ke Yaman. Pada waktu itu di Yaman dan Syam banyak sekali ahli kitab yang sebagian besar adalah bangsa Yahudi. Karena itu tidaklah mengherankan bila antara orang Arab dengan Yahudi terjalin hubungan. Kontak ini memungkinkan merembesnya kebudayaan Yahudi kepada bangsa Arab.
Di saat yang demikian Islam hadir dengan kitabnya yang bernilai tinggi dan mempunyai ajaran yang bernilai tinggi pula. Dakwah Islam disebarkan dan Madinah sebagai tempat tujuan Nabi hijrah tinggal beberapa bangsa Yahudi yaitu Qurayqa, Bani Quraidah, Bani Nadzir, Yahudi Haibar, Tayma dan Fadak.[8]Karena orang Yahudi bertetangga dengan kaum muslimin, lama kelamaan terjadi pertemuan yang intensif antara keduanya, yang akhinya terjadi pertukaran ilmu pengetahuan. Rasulullah menemui orang Yahudi dan ahli kitab lainnya untuk mendakwahkan Islam. Orang Yahudi sendiri sering datang kepada Rasulullah saw untuk menyelesaikan suatu problem yang ada pada mereka, atau sekedar untuk mengajukan suatu pertanyaan.
Pada era Rasulullah saw, informasi dari kaumYahudi dikenal sebagai israiliyyah tidak berkembang dalan penafsiran al-Qur'an, sebab hanya beliau satu-satunya penjelas (mubayyin) berbagai masalah atau pengertian yang berkaitan dengan ayat-ayat al-Qur'an umpamanya saja, apabila para sahabat mengalami kesulitan mengenai pengertian yang berkaitan dengan sebuah ayat al-Qur'an, baik makna atau kandungannya, merekapun langsung bertanya kepada Rasulullah saw.[9]
Kendatipun demikian,, Rasulullah juga telah memberikan semacam green light pada umat Islam untuk menerima informasi yang menyebarkan informasi dari Bani Israil, hal ini tampak dalam hadits beliau:
"Sampaikanlah yang datang dariku walaupun satu ayat, dan ceritakan (apa yang kamu dengar) dari Bani Israil dan hal itu tidak ada salahnya. Barang siapa yang berdusta ayatku, maka siap-siaplah untuk menempati tempatnya di neraka".
Demikian pula dalam hadits lain beliau bersabda:
"Janganlah kamu benarkan orang-orang ahli Kitab dan jangan pula kamu dustakan mereka. Berkatalah kamu sekalian, kami beriman kepada dan kepada apapun yang diturunkan kepada kami.
Dari hadits-hadits di atas Rasulullah sebenarnya memberikan peluang atau kebebasan pada umatnya untuk mengambil atau menerima riwayat-riwayat dan ahli Kitab. Dua hadits di atas juga memberikan semacam warning akan perlunya sikap selektif dan hati-hati terhadap riwayat ahli kitab.
Dan uraian tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa israiliyyat sebenarnya sudah lama muncul dan berkembang di kalangan bangsa Arab jauh sebelum Rasulullah saw, yang kemudian terus bertahan pada era Rasulullah saw. Hanya saja ia belum menjadi khasanah yang merembes dalam penafsiran al-Qur'an.
Setelah Rasul wafat, tidak seorangpun yang berhak menjadi penjelas wahyu Allah. Dalam kondisi ini para sahabat mencari sumber dari hadits Rasul. Apabila mereka tidak menjumpai, mereka berijtihad. Riwayat dan ahli Kitab menjadi salah satu rujukan. Hal ini terjadi karena ada persamaan antara al-Qur'an, Taurat dan Injil. Hanya saja al-Qur'an berbicara secara padat, sementara Taurat dan Injil berbicara panjang lebar.
Pada era shahabat inilah israiliyvat mulai berkembang dan tumbuh subur. Hanya saja dalam menerima riwayat dan kaum Yahudi dan Nashrani pada umumnya mereka amat ketat. Mereka hanya membatasi kisah-kisah dalam al-Qur'an secara global dan Nabi sendiri tidak
menerangkan kepada mereka kisah-kisah tersebut. Disampng itu mereka terkenal sebagai orang-orang yang konsekuen dan konsesten pada ajaran yang diteima dari Rasulullah saw, sehingga jika mereka menjumpai kisahkisah israiliyyat yang bertentangan dengan syari'at Islam, mereka menentangnya. Dan apabila kisah-kisah itu diperselisihan mereka
menangguhkannya. adz-Dzahabi mengatakan keterlibatan para sahabat dalam meriwayatkan israiliyyat tidak berlebih-lebihan dan dalam batas kewajaran.[10]
Pada era tabi'in, penukilan dari ahli Kitab semakin meluas dan cerita-cerita israiliyyat dalam tafsir semakin berkembang. Sumber cerita ini adalah orang-orang yang masuk Islam dari kalangan ahli Kitab yang jumlahnya cukup banyak dan ditunjang oleh keinginan yang kuat dari orang-orang untuk mendengar kisah-kisah yang ajaib dalam kitab mereka. Oleh karenanya pada masa tersebut muncul sekelompok mufassir yang ingin mengisi kekosongan pada tafsir, yang menurut mereka dengan memasukan kisah-kisah yang bersumber pada orang-orang yang Yahudi dan Nasrani. sehingga karenanya tafsir-tafsir tersebut menjadi simpang siur dan bahkan kadang-kadang mendekati takhayul dan khurafat. Diantaranya adalah Muqatil bin Sulaiman. Pada era ini pula banyak hadits-hadits palsu, kedustaan dan kebohongan yang disandarkan kepada Rasulullah saw tersebar.[11]
Sikap selektef dalam periwayatan menjadi hilang. Banyak periwayatan yang tidak melalui jalur "kode etik metodologi penelitian" ilmu hadits dengan tidak menuliskan sanadnya secara lengkap. Setelah era tabi'in tumbuh kecintaan yang luar biasa terhadap cerita
israiliyyat dan diambil secara ceroboh, sehinga setiap cerita tersebut tidak lagi ada yang ditolak.
Mereka tidak lagi mengambil cerita tersebut kepada al-Qur'an, walaupun tidak imengerti oleh akal. Mereka menganggap tidak perlu membuang cerita-cerita dan kisah-kisah yang tidak dibenarkan untuk menafsirkan al-Qur'an.Ada beberapa faktor yang menyebabkan masuknya israiliyyat dalam tafsir yaitu:[12]
Pertama, perbedaan metodologi antara al-Qur'an. Taurat dan Injil dalam global dan ringksan titik tekannya adalah memberikan petunjuk jalan yang benar bagi manusia, sedangkan Taurat dan Injil mengemukakan secara terinci, perihal, waktu dan tempatnya. Ketika menginginkan pengetahuan secara lebih teperinci tentang kisah-kisah umat
Islam bertanya kepada kelompok Yahudi dan Nasrani yang dianggap lebih 12Muhammad Husin adz-Dzahabi, Penyimpangan dalam Penafsiran al-Qur'an, tabu.
Kedua, ada pula pendapat yang mengatakan rendahnya kebudayaan masyarakat Arab karena kehidupan mereka yang kurang banyak yang pandai dalam hal tulis menulis (ummi). Meskipun pada umumnya ahli Kitab juga selalu berpindah-pindah., tetapi pengetahuan mereka tentang sqarah masa lampau lebih luas.
 Ketiga, ada justifikasi dari dalil-dalil naqlilah yang difahami masyarakat Arab sebagai pembenaran bagi mereka untuk bertanya pada ahli Kitab.
Keempat, adalah heterogenitas penduduk. Menjelang masa kenabian Muhammad saw jazirah Arab dihuni juga oleh kelompok Yahudi dan Nasrani.
 Kelima, adanya rute perjalanan niaga. masyarakat Arab, rute selatan adalah Yaman yang dihuni oleh kalangan Nasrani. sedangkan rute ke utara adalah Syam yang dihuni oleh kalangan Yahudi.
Menurut Rosehan Anwar sumber israiliyyat dimotori oleh tokohtokoh primer yaitu Abdullah bin Salam, nama lengkapanya adalah Abu Yusuf bin Salam bin al-Haris al-Ansari. Ia menyatakan eislamannya sesaat setelah Rasulullah tiba di Madinah dalam peristiwa hijrah, dalam perjuangan menegakan Islam, Ia termasuk pejuang dalam perang Badar dan ikut menyaksikan penyerahan Bait al-Maqdis ke tangan umat Islam. Riwayat-riwayatnya banyak diterima oleh kedua putranya, Yusuf dan Muhammad, Auf bin Malik, Abu Hurairah. Imam Bukhari pun memasukan beberapa riwayat darinya[13]
Lebih lanjut Rosihan menambahkan selain tokoh tersebut tercatat nama Ka'ab al-Ahbar. Nama aslinya adalah Abu Ishaq Ka'ab bin Mani al-Humairi yang terkenal dengan Ka'ab al-Ahbar karena pengetahuannya yang dalam, ia berasal dari Yahudi Yaman dan memeluk Islam pada masa Umar bin Khattab. Dalam perjuangan menegakan Islam ia turut berjuang menuju Syam bersama kaum muslimin lainnya. Banyak cerita israiliyyat yang dinisbahkan kepadanya. Riwayat-riwayatnya diterima oleh Muawiyah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Malik bin Abi Amir al-Asbani, Atha bin Abi Rabbah dan lain-lain. Kestsiqatannya menjadi perdebatan para ulama, Ahmad bin Amir misalnya meragukan ketsiqatannva bahkan
keagamaannya.
Nama lain adalah Wahab bin Munabbih, nama langkapnya adalah Abu Abdillah bin Munabbih bin Sij al-Yamani. Ia masuk Islam pada masa Rasululah saw. Dzahabi mengatakan ia adalah orang jujur, terpercaya dan banyak menukilkan israiliyyat. Menurut Ibnu Hajar ia adalah tabi'in miskin yang mendapat kepercayaan dari Jumhur ulama. Abu Zahrah dan Nasa'i mengatakan la adalah orang terpercaya.
3. PENGARUH ISRAILIYAT DALAM PENAFSIRAN AL QUR AN
Menurut Zainul Hasan Rifa'i,[14] masuknya israiliyyat dalam penafsiran al-Qur'an terutama yang bertentangan dengan prinsif asasinya banyak menimbulkan pengaruh negatif pada Islam. Diantaranya adalah merusak akidah umat Islam, seperti yang dikemukakan oleh Mudatil ataupun Muhammad dengan Zainab binti Jahsyi yang keduanya mendiskriditkan pribadi Nabi yang ma'shum Berta menggambarkan Nabi sebagai pemburu nafsu seksual. Hal ini membawa kesan bahwa Islam adalah agama khurafat, takhayul dan menyesatkan. Hal ini tampak pada riwayat al-Qurthubi ketika menafsirkan firman Allah swt surat al-Mukmin: ayat 7 , yaitu :
"para malaikat memikul arsy 'dan yang disekitarnya bertasbih memuji Tuhan..."
Ayat ini ditafsirkan dengan mengatakan "Kaki malaikat pemikul `arsy berada di bumi paling bawah, sedangkan kepalanya menjulang ke 'arsy. [15]
Ditambahkannya masuknya israiliyyaat ini memalingkan perhatian umat Islam dalam mengkaji soal-soal kilmuan Islam. Dengan larutnya umat Islam ke dalam keasyikan menikmati kisah-kisah israiliyyaat, mereka tidak lagi antusias memikirkan hal-hal makro, seperti sibuk dengan nama dan anjing Ashabul Kahfi, jenis kayu dari tongkat Nabi musa as, nama binatang yang ikut serta dalam perahu Nabi Nuh as dan sebagainya dimana perincian
itu tidak dinamakan dalam al-Qur'an karena memang tidak bermanfaat. Sekiranya bermanfaat al-Qur'an tentu menjelaskan.
Selanjutnya adz-Dzahabi mengatakan[16] israiliyyat akan merusak akidah kaum muslimin karena mengandung unsur penyerupaan dan pengkongkritan (tasybih dan tajsim) kepada Allah dan mensifati Allah dengan sifat yang tidak sesuai keagungan dan kesempumaan-Nya. cerita itupun mengandung unsur ismah (terpeliharanya) Nabi dan para Rasul dari dosa, menggambarkan mereka dalam bentuk yang menonjol syahwatnya, mendorong mereka pada perbuatan-perbuatan buruk yang tidak pantas dan layak bagi orang yang adil, apalagi orang yang menjadi Nabi. Lebih lanjut beliau menjelaskan israiliyyat memberikan gambaran seolah-olah Islam agama khurafat dan kebohongan yang tidak ada sumbernya. Disamping itu
dengan israiliyyat hampir saja hilang kepercayaan pada sebagian ulama salaf, baik dari kalangan sahabat maupun tabi'in. Tidak sedikit cerita israiliyyat yang munkar ini disandarkan kepada sahabat atau tabi'in, seperti Abdullah bin Salam, Ka'ab al-Ahbar dan Wahab bin Munabbih.
Terhadap israiliyyat ulama salaf yang tokohnya antara lain Ibnu Taimiyah melihat tiga bagian, ada yang sejalan dengan Islam perlu dibenarkan dan diriwayatkan, sedangan yang masuk bagian yang tidak sejalan harus ditolak dan tidak boleh diriwayatkan. Sedangkan yang
tidak masuk bagian pertama dan kedua tidak perlu dibenarkan dan didustakan, tetapi boleh diriwayatkan. Pendapat serupa dikemukakan oeh lbu Hajar al-Asqalani.[17]
Di kalangan ulama Khalaf seperti Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Musthafa al-maraghi, Mahmud Syaltut, Abu Zahrah dan al-Biqa'i. Diantara para ulama ini Muhammad Abduh paling gencar mengkritik kebiasaan ulama Tafsir yang banyak menggunakan israiliyyat dalam menafsirkan al-Qur'an. Menurut Muhammad Abduh menggunakan israiliyyat adalah cara yang mendistori pemahaman terhadap Islam. Sikap keras serupa diperlihatkan oleh Rasyid Ridha (murid Abduh). Ia mengatakan riwayat israiliyyat yang secara eksterim diriwayatkan oleh para ulama telah keluar dari konteks al-Qur'an. Lebih jelas al-Maraghi mengatakan kitab-kitab tafsir keluar dari konteks israiliyyat yang tidak jelas kualitasnya. Sikap negatif yang sama juga, diperlihatkan oleh Muhammad Syaltut, israiliyyat
menurutnya hanya menghalangi umat Islam menemukan petunjuk al-Qur'an. Kesibukan mempelajarinya telah memalingkan mereka dari intan dan mutiara yang terkandung dalam al-Qur'an. Abu Zahrah mengatakan israiliyyat harus dibuang karena tidak berguna dalam memahami al-Qur'an. Bahkan al-Biqa'i berargumentasi dengan israiliyyat adalah sesuatu yang mungkar.
Penulis berpandangan berdasarkan hadits Rasul dang kenyataan dengan melihat israiliyyat sebagai sumber tafsir, karena melihat keberadaan israiliyyat yang banyak negatif. Beberapa contoh penafsiran berdasarkan israiliyyat banyak kita jumpai dalam tafsir ath-Thabari. Dalam al-Qur'an kisah penyembelihan yang dilakukan Nabi Ibrahim as diabadikan dalam QS. Al-Shafat 102 yang berbunyi:
“Maka tatkala anak itu sampai (Pada umur sanggup) berusaha bersama-sama dengan Nabi Ibrahim, Nabi Ibrahim berkata: "Hai anakku, sesunguhnva aku melihat dalam mimpi aku meyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu? Ia menjawab, "Wahai Bapaku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatkanku termasuk orang-orang yang sabar ".
Kunci persoalan yang sering menjadi perdebatan para ulama berkaitan dengan tema ini adalah uraian tentang siapa sebenarnya yang di `al-adzabih' pada ayat di atas. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud itu adalah Nabi Ismail as. putra Nabi Ibrahim as. dari Siti
Hajar. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud adalah Nabi Ishaq as, putranya dari Siti Sarah. Pendapat terakhir, menurut Ibnu Katsir dan mufassir lainnya berasal dari israliyyat.[18] Karena sumber tafsiran ini berasal dari keinginan mengangkat nenek moyang bangsa Yahudi yaitu Ishaq as. Bahkan menurut Ibnu Katsir lagi pendapat mereka itu
bertentangan dengan sumber-sumber ahli kitab mereka.
Berkaitan dengan pesoalan di atas, dalam tafsirnya mengungkapkan dua kelompok riwayat yang masing-masing mewakili dua pendapat di atas. Riwayat yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan at-dzahabi adalah Nabi Ishaq as. diterimanya dari Abi Kuraib, Zaid bin Habilm, al-Hasan bin Dinar, dari Ali bin Zaid bin Zad'an, dari al-Ahnaf bin Qaid dan al-Abbas bin Abdul Muthalib dan dari Nabi.
Sanad israiliyyat yang disandarkan kepada Nabi di atas ditolak oleh para ulama. Menurut Ibnu Katsir sebagaimana ditulis oleh Syu'bah, riwayat itu dha'if, gugur dan tidak dapat dijadikan hujjah sebab salah satu rawinya yaitu Hasan bin Dinar, harus ditinggalkan periwayatannya dan gurunya pun, Zaid bin Zad'an, periwayatannya tidak dapat diterima.
Namun kelemahan-kelamahan ini tidak dikemukakan oleh ath-Thabari,[19] bahkan ia menjadikannya pemihakan terhadap israiliyyat yang mengatakan yang disembelih adalah Nabi Ishaq as, meskipun tidak mengomentari sanadnya, ia mengomentari matnnya. Dalam hal ini ia memilih riwayat yang mengatakan yang dimaksud dengan al-dzahib adalah Nabi Ishaq as. Ia juga mengatakan al-Qur'an mendukung riwayat itu. Untuk mendukung pendapatnya, ia mengajukan berbagai argumentasi, umpamanya ia berargumentasi bahwa permintaan Nabi Ibrahim as agar dikaruniai putra ketika berpisah dan kaumnya dan hendak hijrah ke Syam bersama isterinya Sarah, terjadi ketika ia belum mengenal Hajar isterinya yang kedua. Setelah peristiwa hijrah itu Tuhan mengabulkan do'anya. Anak itulah yang menurutnya kemudian dilihatnya disembelih dalam ketiga mimpinya. Dalam al-Qur'an, Nabi Ishaqlah yang disebut-sebut sebagai kabar gembira bagi Nabi Ibrahim as, dalam surah as-Shaffat : 101
"Maka kami memberi kabar gembira kepadanya seorang anak  yang sabar "
Diantara israiliyyat yang mewarnai tafsir ada juga yang sejalan dengan al-Qur'an, tetapi jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan israiliyyat yang bertentangan dengan al-Qur'an. Diantara yang sejalan dengan al-Qur'an adalah israiliyyat yang bertalian dengan ayat al-A'raf 157 yang dikutip oleh Ibnu Katsir, yaitu:
"Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi Ummi yang (namanya) mereka dapati di dalam Taurat dan Injil yang berada di sisi mereka Nabi yang menyuruh mereka mengerjakan perbuatan ma'ruf dan melanggar perbuatan munkar serta menghalalkan bagi mereka segala yang baik ".
Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir mengutip israiliyyat yang yang disampaikan ath-Thabari dari al-Mutsanna dari Utsman bin Umar dari Fulaih dari Hilal bin Atha bin Yasar, Ia berkata :"Aku bertemu dengan Abdullah bin 'Amr bin Ash dan bertanya kepadanya, ceritakan olehmu kepadaku tentang sifat Rasulullah saw yang diterangkan dalam Taurat sama seperti yang diterangkan dalam al-Qur'an, wahai Nabi sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira, pemberi peringatan dan pemelihara yang ummi, engkau adalah hamba-Ku, namamu dikagumi, engkau tidak kasar tidak pula keras. Allah tidak akan mencabut namamu sebelum agama Islam tegak lurus, yaitu setelah diucapkan tiada Tuhan yang patut disembah dengan sebenar-benarnya kecuali Allah, dengan perantaraan engkau pula Allah akan membuka hati yang tertutup, membuka telinga yang tuli dan membuka mata yang buta".
Ibnu Katsir mengkaitkan israiliyyat itu dengan pernyataan bahwa Imam Bukhari telah meriwayatkan dalam kItabnya Shahihnya yang diterima dari Muhammad bin Sinan. dari Fulai, dari Hilal bin Ali dengan tambahan redaksinya berbunyi, "dan bagi sahabat-sahabatnya di pasar, Nabi tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan, tetapi ia senantiasa
mempunyai sifat pemaaf. Keberadaan israiliyyat itu dalam shahih Bukhari menunjukan bahwa kwalitas sanadnya shahih.
Demikian pula israiliyyat ada yang memiliki kualifikasi tidak dapat diterima dan tidak pula dapat didustakan kebenarannya (maukuf), contohnya surah an-Nisa 158 tentang kenaikkan Isa al-Masih :
"Tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa kepadaNya dan adalah Maha Pengasih lagi Maha Bijaksana".
Al-Qur'an memang tidak membahas secara rinci bagaimana proses penyerupaan dan kenalkan Isa as sehingga persoalan ini kerap kali menjadi bahan kontraversi di kalangan umat Islam. Umpamanya masih diperselisihkan apakah yang diserupakan dengannya itu dan kemudian dibunuh oleh orang-orang Yahudi hanya satu orang atau semua sahabatnaya yang ketika kejadian itu berlangsung berada di rumah dengannya. Bila ada uraian tentang hal itu sudah bisa dipastikan bersumber pada israiliyyat. Dalam hal ini ath-Thabari mengutip israiliyyat itu. Ia mengemukakan dua macam riwayat yang masing-masing didukung
oleh banyak sanad. Riwayat pertama berasal dan Wahbah bin Munabbih mengatakan yang diserupakan dengan Nabi Isa as adalah seluruh sahabatnya. Ketika memasuki rumah tersebut dan hendak membunuhnya, orang-orang Yahudi kebingungan karena seisi rumah itu wajahnya sama, akhirnya mereka membunuh salah seorang sahabatnya, sedang Nabi Isa as
diangkat ke langit.
Riwayat kedua yang berasal dari Qatadah mengatakan bahwa yang diserupakan dengannya adalah salah seorang sahabatnya saja, ketika masuk orang-orang Yahudi membunuh orang yang diserupakan itu, sedangkan Nabi Isa as diangkat ke langit.
Ath-Thabari lebih cenderung kepada pendapat Wahab bin Munabbih dengan pertimbangan rasionya lebih mendekati kebenaran, jika salah satu saja yang diserupakan, tentu para sahabatnya yakin yang dibunuh adalah orang yang diserupakan. Padahal sebenarnya mereka merasa kebingungan siapa sebenarnya yang mereka bunuh tersebut.
Dari israiliyyat-israiliyyat yang mewarnai kitab tafsir, menurut pendapat saya, sebelum menjadi dasar menafsiran ayat al-Qur'an seorang mufasir harus bersikap extra hati-hati. Metodenya adalah melakukan studi kritis sanad, dengan meyebutkan nama-nama rawi yang terlibat dalam transmisian sebuah riwayat sehingga didapati riwayat yang didasarkan pada sanad yang sahih. Pencantuman israiliyyat dalam tafsir harus diberi komentar tidak sekedar "taken for granted" saja sehingga membingungkan para pembaca tafsir apa pendapat pengarang sebenarnya, apakah mendukung atau tidak terhadap israiliyyat yang dicantumkan dalam tafsirnya. Yang kedua harus diperhatikan kesesuaiannya dengan syari'at Islam, persesualan ini dengan pada al-Qur'an dan Hadits Nabi. Yang ketiga apakah sesuai dengan rasio atau tidak.
                                                                
BAB III
 PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Israiliyyat adalah bentuk jamak dari israiliyyah, yakni bentuk kata yang dinisbahkan kepada kata israil ,Secara istilah israiliyyat adalah kisah dan dongeng yang disusupkan dalam tafsir dan hadits yang asal riwayatnya disandarkan atau bersumber pada Yahudi, Nashrani dan lainnya atau cerita-cerita yang secara sengaja diselunduplan oleh musuh-musuh Islam ke dalam tafsir dan hadits, yang sama sekali tidak dijumpai dalam sumber-sumber yang sahih.
Masuknya israiliyyat dalam tafsir tidak terlepas dari kondisi sosio cultural masyarakat arab pada zaman jahiliyah. Adanya migrasi besa besaran orang Yahudi pada tahun 70 M ke jazirah Arab karena ancaman dari Romawi yang dipimpin oleh kaisar Titus menimbulkan kontak antara keduanya, ditambah lagi kondisi orang Arab sendiri yang sering melakukan perjalanan dagang ke Syam dan Yaman., di Madinah sendiri banyak orang Yahudi yang bermukim di sana.
Keberadaan israiliyyat dalam tafsir banyak memberikan pengaruh buruk, sikap teliti yang diperlihatkan oleh para sahabat dalam mentransfer. israiliyyat tidak Menjadi perhatian genarasi sesudahnya, sehingga banyak israiliyyat yang Mengandung khurafat dan bertentangan dengan nash mewarnal kitab tafsif.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihan, Melacak Unsur-unsur Israilliyyat dalam Tafsir
ath-Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir, Bandung, Pustaka Setia, 1999.
al-Bukhari, Matn Bukhari, Beirut, Dar al-Fikri, tth, jilid II dan IV.
adz-Dzahabi, Muhammad Husain, al-Tafsir wa al-Mufassir, Mesir. Dar al-
Kutub wa al-Hadits, 1976, jilid I.
_________________, Penyimpangan dalam Penafsiran al-Qur'an, Jakarta,
Rajawali, 1986.
_________________, al-Israiliyyat fi Tafsir wa al-Hadits, terjemahan Didin
Hafiduddin, Jakarta, PT Litera Antara Nusantara, 1993.
Khalil, Sayyid Kamal, Dirasah fi al-Qur'an, Mesir, Dar al-Ma'rifah, 1961.
Rifai, Zainal Hasan, Kisah-kisah Israiliyyat dalam Penafsiran al-Qur'an dalam Belajar Ulumul Qur'an, Jakarta, Lentera Basitama, 1992.
 ar-Rifai, Muhammad Nazib, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jakarta, Gema Insani, 2000.
Syadali, Ahmad, dan Ahmad Rofi'i, Ulumul Qur'an I, Bandung, Pustaka
Setia, 1997.


[1] Muhammad Husain adz-Dzahabi, al-Tafsir,al-Mufassirin, (Mesir: Dar al-Kutub
wal al-Hadits, 1976), jilid I, h. 59
[2] M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur'an, (Bandung: Mizan, 1992), h. 71
[3] Muhammad Husain adz-Dzahabi, al-Israilyyat fit-Tafsiri wa al-Hadits,
terjemahan Didin Hafiduddin (Jakarta, PT. Litera Antara Nusantara, 1993), h. 8.
[4] Muhammad Husin adz-Dzahabi, op. cit, h. 9-10.
[5] 5Rosihan Anwar, Melacak Unsur-unsur Israiliyyat dalam Tafsir ath-Thabari dan
Tafsir Ibnu Katsir, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), h. 24-25.
[6] Sayyid Kamal Khalil, Dirasah fil al-Qur'an, (Mesir: Dar al-Ma'rofah, 1961),
h.113.
[7] Adz-Dzahabi, op. cit., h. 25.
[8] Ibid
[9] Zainal Hasan Rifai, Kisah-kisah Israiliyyat dalam Penafsiran al-Qur'an dalam
Belajar Ulumul Qur'an, (Jakarta: Lentera Basitama, 1992), h. 278.
[10] Muhammad Husin adz-Dzahabi, Penyimpangan dalam Penafsiran al-Qur'an,
(Jakarta: Rajawali, 1986), h. 24.
[11] Ibid.
[12] Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi'i, Ulumul Qur'an, (Bandung: Pustaka Setia,
1997), h. 242-243.
[13] Rosihan Anwar, op. cit., h. 37
[14]  Zainul Hasan Rifa'i, Kisah-kisah Israiliyyat dalam Penafsiran al-Qur'an, dalam
Jurnal Hikmah, No. 13, Edisi Zulqaidah, 1414- Muharrah 1415, h. 12.
[15] Zainul Hasan Rifa'i, Kisah-kisah Israiliyyat dalam Penafsiran al-Qur'an, dalam
Jurnal Hikmah, No. 13, Edisi Zulqaidah, 1414- Muharrah 1415, h. 12.
[16] Muhammad Husin adz-Zahabi, op. cit., h. 27-28, 32-33.
[17] Rosihan Anwar, op. cit., h. 42.
[18] Muhammad Nazib ar-Rifa'i, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta, Gema
Insani, 2000), jilid. IV, h. 40.
[19] Rosihan Anwar, op. cit., h. 83.

Categories:

Leave a Reply